free counters

Monday, January 23, 2012

Selamat Tahun Baru Imlek 2562 atau 4708 ( 2011 C.E )?

Budaya-Tionghoa.Net | Etnis Tionghoa baru saja merayakan Tahun baru Imlek, dan masyarakat Indonesia pada umumnya mengucapkan selamat tahun baru Imlek 2562. Membaca judul tulisan diatas mungkin membuat banyak pembaca menjadi bingung, kenapa judul tulisan diatas adalah “Selamat Tahun baru Imlek 2562 atau 4708 ? Sebelum membaca tulisan lebih lanjut, dalam tulisan ini, saya akan menuliskan tahun 2562 adalah Kongzi Era dan 4708 adalah Huangdi Era dan disingkat menjadi K.E dan H.E. Untuk penanggalan Masehi, saya menggunakan Common Era atau C.E.

Pada umumnya di luar negri penyebutan kalender Tionghoa adalah kalender Xia atau Xiali. Selain itu juga sering disebut kalender kaisar Kuning atau Huangdi li dan sering disingkat menjadi Huangli. Hanya di Indonesia kalender Tionghoa disebut Imlek, yang mana ini berasal dari bahasa Hokian yang berarti kalender lunar. Inilah salah satu ciri khas Tionghoa Indonesia yang menurut saya tidak ada di kalangan perantauan Tionghoa dibelahan dunia lain. Walau ada beberapa orang yang beranggapan sebutan Imlek adalah salah, saya berpendapat istilah Imlek perlu dipertahankan sebagai ciri khas etnis Tionghoa Indonesia.

Berdasarkan catatan sejarah kalender Xiali digunakan pertama kali oleh dinasti Xia (2070 BCE-1600 BCE ), dan sistem penanggalan yang menjadi dasar untuk penanggalan kalender Xia konon dibuat oleh kaisar purba Huangdi atau kaisar Kuning. Karena digunakan oleh dinasti Xia, maka penanggalan yang dibuat kaisar Kuning disebut Xiali. Dan kita sering menyebutnya sebagai kalender atau penanggalan Imlek.

Tahun Imlek 2562 ini menunjukkan pengaruh Ruism atau yang lebih dikenal sebagai agama Khonghucu. Pada masa dinasti Qing, Kang Youwei ( 1858-1927 ) , seorang reformis Ruism menyarankan agar menggunakan Kongzi era yang dihitung dari tahun kelahiran Kongzi. Sedangkan Liu Shipei (1884-1919 ) menolak hal itu dan mengusulkan agar tahun kalender Tionghoa dihitung dari tahun kelahiran Huangdi.

Yang menjadi suatu masalah adalah kapan Huangdi dilahirkan untuk dijadikan patokan perhitungan Huangdi Era.

Liu Shipei memperkirakan tahun 2711 BCE adalah tahun kelahiran Huangdi, jadi tahun 2008 CE adalah tahun 4719 H.E.

Song Jiaoren ( 1882-1913 ) memperkirakan tahun 2697 BCE adalah tahun kelahiran Huangdi, dan akhirnya banyak orang yang sepakat untuk menerima tahun 2697BCE sebagai awal Huangdi Era. Dari angka inilah sekarang tahun baru Imlek ini bisa disebut tahun baru Imlek 4708 H.E. Selain masyarakat luas, umat Taoism juga menyebutkan bahwa Huangdi Era adalah tahun yang diguanakan oleh umat Taoism dan mereka menyebutnya Daoli atau kalender Tao.

Sebagian besar masyarakat Tionghoa di luar negri dan umat Taoism lebih suka menggunakan Huangdi Era karena Huangdi atau kaisar kuning ini dalam sejarah Tiongkok dianggap sebagai bapak bangsa etnis Han atau orang Tionghoa secara umumnya. Dan para Taoist menggunakan Huangdi Era, karena dalam kepercayaan Taoism kaisar Kuning ini adalah pembuka ajaran agama Tao.Alasan inilah yang membuat timbulnya Huangdi Era dan Dao Era, dimana Huangdi Era dan Dao Era sama saja hanya penyebutan Dao Era atau Daoli digunakan oleh para Taoist. 

Belum lama ini di Tiongkok ada opini yang menentang penggunaan Huangdi Era, karena sebagian para ahli sejarah mengatakan bahwa sekarang ini sudah terbukti bahwa kebudayaan Tiongkok sudah berumur 7000 tahun, bukan 5000 tahun seperti yang diketahui oleh masyarakat awam. Tapi opini yang menentang penggunaan Huangdi Era itu gaungnya tidak luas.

Hitungan tahun diatas selain yang dikenal, ada cara hitungan lain yaitu dengan hitungan Yuan atau 1 siklus 60 jiazi. 1 siklus jiazi adalah sama dengan 60 tahun. Dimana 60 tahun itu adalah hasil penggabungan cabang Langit dan ranting bumi yang menjadi dasar perhitungan kalender Imlek.
Hitungan Yuan itu juga berpatokan pada kelahiran Huangdi, dan sekarang ini sudah memasuki Yuan yang ke 77 dan ada yang mengatakan sudah memasuki siklus ke 78. Sistem perhitungan dengan siklus jiazi ini yang membuat tahun 2008 ini disebut tahun tikus tanah.

Selain masalah tahun Kongzi era dan Huangdi Era, sering terjadi kesalahan yang lain, seperti penyebutan tahun pemerintahan sebagai nama kaisar dan juga anggapan bahwa kalender Imlek adalah kalender lunar.
Sistem tahun yang digunakan oleh orang Tionghoa jaman dahulu memang sering membingungkan orang jaman sekarang.

Sebagai contoh adalah kaisar Ming Chengzu ( 1360-1424 ), sering disebut sebagai kaisar Yongle. Saya sering melihat banyak orang yang ketika menuliskan atau membahas laksamana Zhenghe (1371-1435 ), sering menyebut atau menulis nama kaisar bernama Yongle yang memerintahkan laksamana Zheng He berlayar. Ini adalah suatu kesalahan i, karena Yongle bukan nama kaisar tapi merupakan tahun pemerintahan atau disebut nian hao. Tahun Yongle ke 1 hingga ke 23 jika dikonversikan ke kalender barat menjadi tahun 1403 sampai dengan 1424. Setelah itu nama tahun pemerintahan berganti lagi menjadi tahun pemerintahan Hongxi dan kaisarnya sudah bukan Ming Chengzu tapi kaisar Ming Renzhong..
Selain cara penghitungan berdasarkan 60 siklus jiazi, cara penghitungan tahun pemerintahan juga selama ribuan tahun digunakan oleh orang Tionghoa .
Sebutan festival musim semi atau Chunjie tidak berasal dari sebutan jaman kuno tapi dipopulerkan pada awal abad ke 20.

Pada tanggal 2 Januari 1912, Sun Yat Sen yang menjabat presiden sementara Repulik Tiongkok mengeluarkan telegram yang menetapkan bahwa Republik Tiongkok menggunakan kalender barat dan pada tanggal 13 bulan 11 tahun Xinghai 4609 H.E adalah hari berdirinya Republik Tiongkok dan selanjutnya Huangdi Era diganti dengan Republik Era.

Dan juga tanggal 1 Januari adalah perayaan tahun baru untuk menggantikan perayaan tahun baru Imlek yang sudah menjadi budaya dan tradisi orang Tionghoa di belahan dunia manapun. Inti dari telegram itu mengubah perayaan tahun baru orang Tionghoa menjadi tanggal 1 januari dan mengubah kalender orang Tionghoa.

Dengan adanya telegram ini, banyak dari jajaran pemerintah Republik Tiongkok menyebut perayaan tahun baru Imlek menjadi festival musim semi. Tapi mayoritas rakyat Tiongkok dan orang Tionghoa perantauan di seluruh dunia tetap beranggapan bahwa tanggal 1 bulan 1 penanggalan Tionghoa adalah perayaan tahun baru. Setiap tanggal tersebut ucapan selamat tahun baru tetap diucapkan dimana-mana. Upaya Sun Yatsen untuk menghapuskan perayaan tahun baru Imlek tidak berhasil sebaliknya sekarang ini perayaan Imlek semakin semarak dimanapun juga termasuk di Indonesia. Dan hingga sekarang sebutan perayaan musim semi tidak bisa menghapuskan kenyataan bahwa tanggal 1 bulan 1 Imlek adalah perayaan tahun baru orang Tionghoa.

Banyak orang yang beranggapan bahwa kalender Tionghoa adalah kalender lunar, dan penyebutan Imlek sebagai kalender Tionghoa sebenarnya kurang pas. Sistem kalender Tionghoa menggunakan perhitungan luni solar dan mengenal bulan kabisat untuk menyelaraskan perhitungan kalender yang berdasarkan garis edar bulan dengan garis edar matahari. Berdasarkan perhitungan kalender Imlek, dalam 19 tahun ada 7 bulan kabisat. Dengan adanya bulan kabisat itu maka rata-rata jumlah hari pertahun adalah 365,25 hari. Ini tidak berbeda dengan perhitungan kalender barat atau kalender Gregorian.

Dari sini kita bisa melihat ternyata tahun Imlek 2562 K.E bisa juga tahun Imlek 4708 H.E, dan menurut saya tidak menjadi masalah tahun yang manapun juga yang digunakan. Kita bisa memakai Kongzi Era maupun Huangdi Era, bahkan boleh saja tahun 4708 H.E itu disebut Dao Era.
Pada intinya kalender Imlek tetap berdasarkan perhitungan lunisolar yang dipercaya dibuat oleh Huangdi dan dipakai oleh dinasti Xia.(2070 BCE-1600 BCE ).

Xinnian Kuaile Wanshiruyi

Selamat hari raya Imlek 4708 H.E

Ardian Zhang 
Sumber : http://web.budaya-tionghoa.net/tradisi/57-festival-a-event/219-selamat-tahun-baru-imlek-2562-atau-4708-2011-ce-bagian1

Sudahkah kita mempersiapkan pensiun?


Pensiun, apakah yang terbersit dalam benak anda setelah mendengar kata tersebut? Pensiun adalah kondisi dimana bagi seorang karyawan tidak lagi masuk bekerja karena usia telah memasuki masa pensiun dan hanya menerima sebagian dari gaji pokok tanpa tunjangan dan lainnya. Untungnya PNS mempunyai program pensiun,dan juga beberapa Perusahaan juga mendaftarkan pegawainya dalam Program Jaminan Hari Tua baik melalui DPPK atau DPLK. Hal tersebut sangat membantu karena para karyawan tersebut akan tetap mendapatkan penghasilan.
Sebagai ilustrasi, penghasilan pejabat setingkat Kepala Bagian atau Eselon 3 adalah kira-kira sekitar Rp. 15 juta belum termasuk uang perjalanan, uang makan, honor dll. Lalu diasumsikan mendapat ruang gaji pokok tertinggi di skema PNS adalah Rp. 4 juta sehingga paling tinggi pensiunan hanya menerima Rp 4 juta x 80% = Rp. 3,2 juta. Jumlah tersebut hanya sekitar 22% dari penghasilan awal, apakah kita sudah siap dengan kenyataan tersebut?
Kondisi ini seringkali menjadi momok bagi karyawan sehingga terkadang mereka berusaha memperpanjang masa kerjanya. Pada masa dimana seseorang baru saja pensiun, yaitu saat mulai berhenti masuk kantor bagi sebagian orang, masa ini adalah hal yang membahagiakan karena memang menunggu untuk masa pensiun. Tapi untuk sebagian lagi mereka sedih karena belum mau berhenti bekerja atau belum punya cukup asset untuk pensiun. Masa ini sangat krusial karena disinilah titik mereka kehilangan penghasilan dan rutinitas sehari-hari untuk berangkat ke kantor, yang dapat mengakibatkan juga rasa kehilangan identitas, kekuasaan, dan harga diri. Inilah yang disebut Post Power Syndrome
Menurut data survey Financial Quotient tahun 2007 oleh salah satu bank swasta international, didapat kenyataan yang mengejutkan
• Jika Responden kehilangan pekerjaan, kebanyakan responden mengatakan bahwa mereka hanya memiliki simpanan untuk biaya hidup kurang dari 11 minggu.
• 6 dari 10 dari responden tidak merencanakan pension mereka
• Kurang dari 25% responden tidak mempunyai dana pension formal
• 39% dari responden percaya bahwa mereka akan bergantung pada anak-anak mereka saat tua..

Fakta di atas menunjukkan bahwa kesadaran untuk mempersiapkan pensiun orang Indonesia masih relative rendah dan cenderung menggantungkan harapan kepada keturunan mereka. Mungkin zaman dahulu hal tersebut bisa dilakukan, namun saat ini zaman sudah berubah dan anak-anak kita akan menghadapi tantangan yang lebih berat. Sebaiknya kita sebagai orang tua tidak menggantungkan harapan kita terhadap anak karena bisa saja anak tersebut malah masih menggantungkan dirinya pada kita saat kita pensiun. Tidak ada yang tahu bukan? Atau bisa saja pada saat kita pensiun anak kita malah baru masuk kuliah. Dalam kasus seperti ini keluarga tersebut malah mempunyai kebutuhan yang amat besar karena membiayai kuliah.
Pensiun seperti apakah yang kita inginkan? Dalam menentukan kebutuhan pensiun, setiap orang tentunya berbeda. Ada orang yang ingin gaya hidupnya tetap seperti biasa, ada juga orang yang bersedia mengurangi level gaya hidupnya menjadi 50% atau 70% dari gaya hidup normal saat bekerja. Tentunya semakin tinggi level gaya hidup yang dipilih saat pensiun semakin tinggi pula dana yang harus dibentuk. Pada saat pensiun kita mau keliliing dunia? Atau masih mau bisa ngopi di Starbucks? Semua hal itu dapat terwujud apabila perencanaan pensiun anda sudah matang.
Sejak kapan kita seharusnya mempersiapkan pensiun? Idealnya adalah sejak kita pertama kali bekerja. Karena semakin awal kita mempersiapkan pensiun semakin kecil biaya yang dibutuhkan untuk persiapan pensiun. Asumsi saja usia pensiun adalah 56, maka apabila kita mulai mempersiapkan masa pensiun pada umur 25 maka kita akan mempunyai waktu 31 tahun untuk berinvestasi. Waktu yang cukup panjang bukan? untuk urusan investasi waktu adalah kawan terbaik anda.
Kita seyogyanya menginvestasikan sebagian penghasilan kita untuk kesejahteraan hari tua, minimum 10% sebaiknya kita sisihkan. Kemana kita harus investasikan? Pensiun adalah tujuan jangka panjang, maka sebaiknya kita berinvestasi di instrument jangka panjang, Berikut beberapa investasi yang dapat dilakukan dalam menghadapi pensiun

• Reksadana
Reksadana merupakan Paper Asset. Reksadana dapat dijadikan instrument investasi Dana Pensiun. Karena merupakan tujuan jangka panjang maka direkomendasikan produk Reksadana Saham dan sangat disarankan melakukan cicilan investasi bulanan (cost averaging). Untuk besaran cicilan yang dibutuhkan harus dihitung kembali. Keuntungannya adalah return yang tinggi rata-rata 25% per tahun, namun kelemahannya adalah risiko yang tinggi. Mengikuti harga pasar yang otomatis dipengaruhi oleh kondisi ekonomi dunia.
• Properti
Properti merupakan salah satu instrument investasi riil (Real Asset) yang bagus untuk persiapan pensiun, Apabila kita sudah mempunyai banyak property pada saat pensiun, harapannya adalah property tersebut dapat memenuhi biaya hidup setelah pensiun dengan pemasukan uang sewa dan capital gain.yang signifikan dalam jangka panjang tergantung lokasinya. Namun kelemahannya adalah rasio sewa property di Indonesia untuk rumah tinggal masih rendah, yaitu rata-rata sekitar 6-7% persen pertahun dari harga pasar rumah dan kurang likuid apabila kita membutuhkan uang cepat.
• Bisnis
Bisnis merupakan Real Assets. Merupakan bentuk investasi paling menguntungkan, apalagi apabila yang telah dihandle orang lain dan menghasilkan penghasilan pasif tetapi juga berisiko tinggi. Bisnis seyogyanya dirintis terlebih dahulu sebelum pensiun karena apabila baru memulai bisnis dengan modal besar setelah pensiun maka tidak disarankan karena bisnis mempunyai risiko yang tinggi.
• Second Career
Seseorang yang telah memasuki masa pensiun biasanya mempunyai banyak waktu luang, Dengan memanfaatkan keterampilan dan pengalaman selama bekerja kita masih bisa berkarya dengan memanfaatkan ilmu yang kita punya. Banyak profesi yang tidak memerlukan waktu kerja penuh seperti mengajar, konsultan, atau menulis buku/artikel. Mungkin hal ini terlihat remeh namun dengan mempunyai karir kedua, di satu sisi tetap mendapat penghasilan tambahan dan ilmu yang dipunya masih bisa bermanfaat bagi orang lain.
Bagaimana dengan anda? Sudahkan anda mempersiapkan masa hari tua anda?
*seperti dimuat dalam majalah internal BPPK, Edukasi Keuangan edisi 9/2011

Sunday, January 22, 2012

“OWE” Laki-laki dan Peranakan!

Dari David Kwa
Pengamat Budaya Tionghoa

Orang Tionghoa Peranakan laki-laki di Indonesia sering menggunakan kata “owe” sewaktu berbicara dalam bahasa Indonesia kepada orang lain yang dihormati, baik kepada orangtua, kakak, atau orang lain yang baru atau sudah lama dikenal. Di lain pihak tayangan di televisi sering menampilkan sketsa kata “owe” dipakai secara serampangan oleh seorang laki-laki Cina Totok untuk berbicara dengan bahasa Indonesia pelo, dengan “haiya” segala rupa, sebagai bumbu penyedapnya! Stereotipe yang berkembang, “owe” kata ganti yang merupakan bahasa Cina (Zhongguohua) dan dipakai oleh orang Cina Totok. Sebenarnya apa “owe” itu dan dari mana asalnya?

Pertama-tama perlu kita ketahui, kata ganti orang pertama tunggal laki-laki bentuk sopan "owe" hanya ada di INDONESIA, khususnya Tionghoa Peranakan. Di luar negeri tidak ada, apa lagi di Zhongguo (Cina). Di sana ada “wo” (Mandarin), “gua” (Hokkian), “ngai” (Hakka), “wa” (Tiociu), “ngou” (Konghu), dll, tapi tidak ada “owe”. Hanya laki-laki yang menggunakan kata ganti “owe” yang KHAS Indonesia itu; perempuan HARUS memakai kata “saya”, tidak boleh “owe”!

Pemakaian kata “owe” menunjukkan pemakainya Tionghoa, sekaligus Indonesia, sebab hanya Tionghoa Indonesia yang memakai kata ini. Di bagian dunia lainnya tidak diketemukan. Kaum Peranakan di Malaysia dan Singapura hanya mengenal kata “gua” asal Hokkian, yang di bahasa kita malah hanya boleh dipakai terhadap orang yang sebaya atau lebih rendah status sosialnya saja, tidak boleh kepada orangtua, misalnya.

“Owe” berasal dari kata dalam dialek Hokkian “oë” (atau seringkali dieja “ue”), artinya “Ya” dalam menjawab panggilan orangtua, kakak, dsb, seperti kata “lebek” dalam bahasa Betawi, “kulan” (laki-laki) dan “kah” (perempuan) dalam bahasa Sunda, dan “ndalem” dalam bahasa Jawa. Lama-kelamaan “owe” ini berubah makna menjadi kata ganti “saya” dalam bahasa Melayu Tionghoa, bahasanya kaum Peranakan. Dari Jawa Barat, kata “owe” ini tersebar hingga ke Jawa Timur, bahkan beberapa narasumber memastikan pemakaian kata “owe” ini juga ditemukan pada komunitas-komunitas Peranakan di Sumatera Barat, macam di Padang dan Payakumbuh.

Kesimpulannya, tayangan sketsa seperti yang sering kita saksikan di televisi itu menyesatkan dan harus kita tolak, karena bukan didasarkan pada suatu riset dan karenanya tidak menyajikan suatu kebenaran! Orang Totok tidak memakai kata “owe”, melainkan “wo”, “gua”, “ngai”, “wa”, “ngou”, dll, tergantung dialek yang dipakai!

Wednesday, January 11, 2012

Makan Sebagai Salah Satu Pilar Budaya Tionghoa

    Banyak orang yang beranggapan bahwa persembahan makanan untuk leluhur berkaitan dengan upacara pemujaan berhala atau menyembah Setan. Sebenarnya jika kita mau menilik lebih mendalam , persembahan makanan berkaitan dengan budaya hidup mereka sehari-hari. Jika orang barat mengatakan "Say it with flowers" maka orang Tionghua akan berkata "Say it with foods.

Dalam kehidupan sehari-hari hingga hari ini jika bersua dengan orang lain , mayoritas bertanya ,"Sudah Makan?"

   Banyak upacara atau hari-hari perayaan tradisi dimana menekankan kepada beberapa faktor seperti berkumpulnya anggota keluarga  dan terjaganya hubungan kekerabatan keluarga , penghormatan leluhur dan makan-makan.  Dan dalam kehidupan sehari-hari hingga hari ini jika bersua dengan orang lain mayoritas bertanya ,"Sudah makan ?" Hadiah pemberian bagi orang lain ketika Imlek , Pek Cun , Tiong Ciu juga selalu makanan bukan hadiah lainnya. Dari sini kita bisa melihat bahwa budaya makan sudah mengakar ribuan tahun


   Pepatah mengatakan MIN YI SHI WEI TIAN ,  bukan berkaitan dengan Tian sebagai Tuhan atau langit. Tapi rakyat atau orang tionghua beranggapan bahwa makanan merupakan yang terutama. Hal ini tidaklah aneh jika kita melihat penderitaan para petani atau rakyat kebanyakan selama ribuan tahun. Mereka mengutamakan masalah makan atau perut. Kaisar harus mengutamakan masalah rakyat dan masalah rakyat adalah ekonomi atau makan. Hal ini ada tercatat dalam kitab Han Shu .

    Dalam perkembangannya terutama berkaitan dengan tradisi , mereka berkumpul sekeluarga dan makan bersama. Sebelum makan bersama , mereka memberikan makanan kepada para leluhur mereka terlebih dahulu. Jadi bukan memberikan bunga seperti tradisi barat. Mereka biasanya menawarkan makan kepada para leluhurnya atau almarhum orangtuanya terlebih dahulu.

     Hal yang salah kaprah terjadi selama ini selalu mengganggap bahwa
orang Tionghoa memuja para leluhur dan mempersembahkan makanan. Perlu kita ketahui , semua makanan yang diberikan kepada leluhur adalah makanan matang berbeda dengan cara-cara istiadat lain yang menyembelih binatang hidup atau tradisi lain yang menggunakan bunga. Saya hingga hari ini belum pernah melihat orang tionghoa yang menggunakan makanan mentah untuk penghormatan leluhurnya.

hormat saya ,

Xuan Tong


Budaya-Tionghoa.Net | Facebook Group Budaya Tionghoa

Tuesday, January 10, 2012

Silsilah kekeluarga Tionghoa

Istilah sistem kekeluargaan Tionghoa di Indonesia

Silsilah kekeluarga marga tionghoa dari pihak ayah

 

  • Nenek dari pihak ayah tetap posisinya seperti kakek.

Silsilah kekeluarga marga tionghoa dari pihak ibu

  • Kakek dari pihak ibu tetap posisinya seperti nenek.

Sebutan Indonesia
Aco Kakek buyut
Aca Nenek buyut
Akong/Akung/Nyaung Kakek
Ama/Nyama Nenek
Sun Saudara laki-laki dari kakek/nenek
Ipo Saudara perempuan dari kakek/nenek
Apek/Empek Kakak laki-laki dari ayah
Acek/Encek Adik laki-laki dari ayah
Ako/Kuku Saudara perempuan dari ayah
Toaku/Akiu Kakak laki-laki dari ibu
Ku/Kiukiu Adik laki-laki dari ibu
Ieie/Ayi Saudara perempuan dari ibu
Aku/Iriong/Kuriong Saudara ipar laki-laki dari ayah/ibu
Akim/Amu/Asing Saudara ipar perempuan dari ayah/ibu
Papa(h) Ayah
Mama(h) Ibu
Tuako/Koko Kakak laki-laki
Tuaci/Cici Kakak perempuan
Titi/Siaoti/Dede Adik laki-laki
Meme/Siaome/Dede Adik perempuan

Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Nama_Tionghoa

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More