free counters

Monday, January 23, 2012

Sudahkah kita mempersiapkan pensiun?


Pensiun, apakah yang terbersit dalam benak anda setelah mendengar kata tersebut? Pensiun adalah kondisi dimana bagi seorang karyawan tidak lagi masuk bekerja karena usia telah memasuki masa pensiun dan hanya menerima sebagian dari gaji pokok tanpa tunjangan dan lainnya. Untungnya PNS mempunyai program pensiun,dan juga beberapa Perusahaan juga mendaftarkan pegawainya dalam Program Jaminan Hari Tua baik melalui DPPK atau DPLK. Hal tersebut sangat membantu karena para karyawan tersebut akan tetap mendapatkan penghasilan.
Sebagai ilustrasi, penghasilan pejabat setingkat Kepala Bagian atau Eselon 3 adalah kira-kira sekitar Rp. 15 juta belum termasuk uang perjalanan, uang makan, honor dll. Lalu diasumsikan mendapat ruang gaji pokok tertinggi di skema PNS adalah Rp. 4 juta sehingga paling tinggi pensiunan hanya menerima Rp 4 juta x 80% = Rp. 3,2 juta. Jumlah tersebut hanya sekitar 22% dari penghasilan awal, apakah kita sudah siap dengan kenyataan tersebut?
Kondisi ini seringkali menjadi momok bagi karyawan sehingga terkadang mereka berusaha memperpanjang masa kerjanya. Pada masa dimana seseorang baru saja pensiun, yaitu saat mulai berhenti masuk kantor bagi sebagian orang, masa ini adalah hal yang membahagiakan karena memang menunggu untuk masa pensiun. Tapi untuk sebagian lagi mereka sedih karena belum mau berhenti bekerja atau belum punya cukup asset untuk pensiun. Masa ini sangat krusial karena disinilah titik mereka kehilangan penghasilan dan rutinitas sehari-hari untuk berangkat ke kantor, yang dapat mengakibatkan juga rasa kehilangan identitas, kekuasaan, dan harga diri. Inilah yang disebut Post Power Syndrome
Menurut data survey Financial Quotient tahun 2007 oleh salah satu bank swasta international, didapat kenyataan yang mengejutkan
• Jika Responden kehilangan pekerjaan, kebanyakan responden mengatakan bahwa mereka hanya memiliki simpanan untuk biaya hidup kurang dari 11 minggu.
• 6 dari 10 dari responden tidak merencanakan pension mereka
• Kurang dari 25% responden tidak mempunyai dana pension formal
• 39% dari responden percaya bahwa mereka akan bergantung pada anak-anak mereka saat tua..

Fakta di atas menunjukkan bahwa kesadaran untuk mempersiapkan pensiun orang Indonesia masih relative rendah dan cenderung menggantungkan harapan kepada keturunan mereka. Mungkin zaman dahulu hal tersebut bisa dilakukan, namun saat ini zaman sudah berubah dan anak-anak kita akan menghadapi tantangan yang lebih berat. Sebaiknya kita sebagai orang tua tidak menggantungkan harapan kita terhadap anak karena bisa saja anak tersebut malah masih menggantungkan dirinya pada kita saat kita pensiun. Tidak ada yang tahu bukan? Atau bisa saja pada saat kita pensiun anak kita malah baru masuk kuliah. Dalam kasus seperti ini keluarga tersebut malah mempunyai kebutuhan yang amat besar karena membiayai kuliah.
Pensiun seperti apakah yang kita inginkan? Dalam menentukan kebutuhan pensiun, setiap orang tentunya berbeda. Ada orang yang ingin gaya hidupnya tetap seperti biasa, ada juga orang yang bersedia mengurangi level gaya hidupnya menjadi 50% atau 70% dari gaya hidup normal saat bekerja. Tentunya semakin tinggi level gaya hidup yang dipilih saat pensiun semakin tinggi pula dana yang harus dibentuk. Pada saat pensiun kita mau keliliing dunia? Atau masih mau bisa ngopi di Starbucks? Semua hal itu dapat terwujud apabila perencanaan pensiun anda sudah matang.
Sejak kapan kita seharusnya mempersiapkan pensiun? Idealnya adalah sejak kita pertama kali bekerja. Karena semakin awal kita mempersiapkan pensiun semakin kecil biaya yang dibutuhkan untuk persiapan pensiun. Asumsi saja usia pensiun adalah 56, maka apabila kita mulai mempersiapkan masa pensiun pada umur 25 maka kita akan mempunyai waktu 31 tahun untuk berinvestasi. Waktu yang cukup panjang bukan? untuk urusan investasi waktu adalah kawan terbaik anda.
Kita seyogyanya menginvestasikan sebagian penghasilan kita untuk kesejahteraan hari tua, minimum 10% sebaiknya kita sisihkan. Kemana kita harus investasikan? Pensiun adalah tujuan jangka panjang, maka sebaiknya kita berinvestasi di instrument jangka panjang, Berikut beberapa investasi yang dapat dilakukan dalam menghadapi pensiun

• Reksadana
Reksadana merupakan Paper Asset. Reksadana dapat dijadikan instrument investasi Dana Pensiun. Karena merupakan tujuan jangka panjang maka direkomendasikan produk Reksadana Saham dan sangat disarankan melakukan cicilan investasi bulanan (cost averaging). Untuk besaran cicilan yang dibutuhkan harus dihitung kembali. Keuntungannya adalah return yang tinggi rata-rata 25% per tahun, namun kelemahannya adalah risiko yang tinggi. Mengikuti harga pasar yang otomatis dipengaruhi oleh kondisi ekonomi dunia.
• Properti
Properti merupakan salah satu instrument investasi riil (Real Asset) yang bagus untuk persiapan pensiun, Apabila kita sudah mempunyai banyak property pada saat pensiun, harapannya adalah property tersebut dapat memenuhi biaya hidup setelah pensiun dengan pemasukan uang sewa dan capital gain.yang signifikan dalam jangka panjang tergantung lokasinya. Namun kelemahannya adalah rasio sewa property di Indonesia untuk rumah tinggal masih rendah, yaitu rata-rata sekitar 6-7% persen pertahun dari harga pasar rumah dan kurang likuid apabila kita membutuhkan uang cepat.
• Bisnis
Bisnis merupakan Real Assets. Merupakan bentuk investasi paling menguntungkan, apalagi apabila yang telah dihandle orang lain dan menghasilkan penghasilan pasif tetapi juga berisiko tinggi. Bisnis seyogyanya dirintis terlebih dahulu sebelum pensiun karena apabila baru memulai bisnis dengan modal besar setelah pensiun maka tidak disarankan karena bisnis mempunyai risiko yang tinggi.
• Second Career
Seseorang yang telah memasuki masa pensiun biasanya mempunyai banyak waktu luang, Dengan memanfaatkan keterampilan dan pengalaman selama bekerja kita masih bisa berkarya dengan memanfaatkan ilmu yang kita punya. Banyak profesi yang tidak memerlukan waktu kerja penuh seperti mengajar, konsultan, atau menulis buku/artikel. Mungkin hal ini terlihat remeh namun dengan mempunyai karir kedua, di satu sisi tetap mendapat penghasilan tambahan dan ilmu yang dipunya masih bisa bermanfaat bagi orang lain.
Bagaimana dengan anda? Sudahkan anda mempersiapkan masa hari tua anda?
*seperti dimuat dalam majalah internal BPPK, Edukasi Keuangan edisi 9/2011

Sunday, January 22, 2012

“OWE” Laki-laki dan Peranakan!

Dari David Kwa
Pengamat Budaya Tionghoa

Orang Tionghoa Peranakan laki-laki di Indonesia sering menggunakan kata “owe” sewaktu berbicara dalam bahasa Indonesia kepada orang lain yang dihormati, baik kepada orangtua, kakak, atau orang lain yang baru atau sudah lama dikenal. Di lain pihak tayangan di televisi sering menampilkan sketsa kata “owe” dipakai secara serampangan oleh seorang laki-laki Cina Totok untuk berbicara dengan bahasa Indonesia pelo, dengan “haiya” segala rupa, sebagai bumbu penyedapnya! Stereotipe yang berkembang, “owe” kata ganti yang merupakan bahasa Cina (Zhongguohua) dan dipakai oleh orang Cina Totok. Sebenarnya apa “owe” itu dan dari mana asalnya?

Pertama-tama perlu kita ketahui, kata ganti orang pertama tunggal laki-laki bentuk sopan "owe" hanya ada di INDONESIA, khususnya Tionghoa Peranakan. Di luar negeri tidak ada, apa lagi di Zhongguo (Cina). Di sana ada “wo” (Mandarin), “gua” (Hokkian), “ngai” (Hakka), “wa” (Tiociu), “ngou” (Konghu), dll, tapi tidak ada “owe”. Hanya laki-laki yang menggunakan kata ganti “owe” yang KHAS Indonesia itu; perempuan HARUS memakai kata “saya”, tidak boleh “owe”!

Pemakaian kata “owe” menunjukkan pemakainya Tionghoa, sekaligus Indonesia, sebab hanya Tionghoa Indonesia yang memakai kata ini. Di bagian dunia lainnya tidak diketemukan. Kaum Peranakan di Malaysia dan Singapura hanya mengenal kata “gua” asal Hokkian, yang di bahasa kita malah hanya boleh dipakai terhadap orang yang sebaya atau lebih rendah status sosialnya saja, tidak boleh kepada orangtua, misalnya.

“Owe” berasal dari kata dalam dialek Hokkian “oë” (atau seringkali dieja “ue”), artinya “Ya” dalam menjawab panggilan orangtua, kakak, dsb, seperti kata “lebek” dalam bahasa Betawi, “kulan” (laki-laki) dan “kah” (perempuan) dalam bahasa Sunda, dan “ndalem” dalam bahasa Jawa. Lama-kelamaan “owe” ini berubah makna menjadi kata ganti “saya” dalam bahasa Melayu Tionghoa, bahasanya kaum Peranakan. Dari Jawa Barat, kata “owe” ini tersebar hingga ke Jawa Timur, bahkan beberapa narasumber memastikan pemakaian kata “owe” ini juga ditemukan pada komunitas-komunitas Peranakan di Sumatera Barat, macam di Padang dan Payakumbuh.

Kesimpulannya, tayangan sketsa seperti yang sering kita saksikan di televisi itu menyesatkan dan harus kita tolak, karena bukan didasarkan pada suatu riset dan karenanya tidak menyajikan suatu kebenaran! Orang Totok tidak memakai kata “owe”, melainkan “wo”, “gua”, “ngai”, “wa”, “ngou”, dll, tergantung dialek yang dipakai!

Wednesday, January 11, 2012

Makan Sebagai Salah Satu Pilar Budaya Tionghoa

    Banyak orang yang beranggapan bahwa persembahan makanan untuk leluhur berkaitan dengan upacara pemujaan berhala atau menyembah Setan. Sebenarnya jika kita mau menilik lebih mendalam , persembahan makanan berkaitan dengan budaya hidup mereka sehari-hari. Jika orang barat mengatakan "Say it with flowers" maka orang Tionghua akan berkata "Say it with foods.

Dalam kehidupan sehari-hari hingga hari ini jika bersua dengan orang lain , mayoritas bertanya ,"Sudah Makan?"

   Banyak upacara atau hari-hari perayaan tradisi dimana menekankan kepada beberapa faktor seperti berkumpulnya anggota keluarga  dan terjaganya hubungan kekerabatan keluarga , penghormatan leluhur dan makan-makan.  Dan dalam kehidupan sehari-hari hingga hari ini jika bersua dengan orang lain mayoritas bertanya ,"Sudah makan ?" Hadiah pemberian bagi orang lain ketika Imlek , Pek Cun , Tiong Ciu juga selalu makanan bukan hadiah lainnya. Dari sini kita bisa melihat bahwa budaya makan sudah mengakar ribuan tahun


   Pepatah mengatakan MIN YI SHI WEI TIAN ,  bukan berkaitan dengan Tian sebagai Tuhan atau langit. Tapi rakyat atau orang tionghua beranggapan bahwa makanan merupakan yang terutama. Hal ini tidaklah aneh jika kita melihat penderitaan para petani atau rakyat kebanyakan selama ribuan tahun. Mereka mengutamakan masalah makan atau perut. Kaisar harus mengutamakan masalah rakyat dan masalah rakyat adalah ekonomi atau makan. Hal ini ada tercatat dalam kitab Han Shu .

    Dalam perkembangannya terutama berkaitan dengan tradisi , mereka berkumpul sekeluarga dan makan bersama. Sebelum makan bersama , mereka memberikan makanan kepada para leluhur mereka terlebih dahulu. Jadi bukan memberikan bunga seperti tradisi barat. Mereka biasanya menawarkan makan kepada para leluhurnya atau almarhum orangtuanya terlebih dahulu.

     Hal yang salah kaprah terjadi selama ini selalu mengganggap bahwa
orang Tionghoa memuja para leluhur dan mempersembahkan makanan. Perlu kita ketahui , semua makanan yang diberikan kepada leluhur adalah makanan matang berbeda dengan cara-cara istiadat lain yang menyembelih binatang hidup atau tradisi lain yang menggunakan bunga. Saya hingga hari ini belum pernah melihat orang tionghoa yang menggunakan makanan mentah untuk penghormatan leluhurnya.

hormat saya ,

Xuan Tong


Budaya-Tionghoa.Net | Facebook Group Budaya Tionghoa

Tuesday, January 10, 2012

Silsilah kekeluarga Tionghoa

Istilah sistem kekeluargaan Tionghoa di Indonesia

Silsilah kekeluarga marga tionghoa dari pihak ayah

 

  • Nenek dari pihak ayah tetap posisinya seperti kakek.

Silsilah kekeluarga marga tionghoa dari pihak ibu

  • Kakek dari pihak ibu tetap posisinya seperti nenek.

Sebutan Indonesia
Aco Kakek buyut
Aca Nenek buyut
Akong/Akung/Nyaung Kakek
Ama/Nyama Nenek
Sun Saudara laki-laki dari kakek/nenek
Ipo Saudara perempuan dari kakek/nenek
Apek/Empek Kakak laki-laki dari ayah
Acek/Encek Adik laki-laki dari ayah
Ako/Kuku Saudara perempuan dari ayah
Toaku/Akiu Kakak laki-laki dari ibu
Ku/Kiukiu Adik laki-laki dari ibu
Ieie/Ayi Saudara perempuan dari ibu
Aku/Iriong/Kuriong Saudara ipar laki-laki dari ayah/ibu
Akim/Amu/Asing Saudara ipar perempuan dari ayah/ibu
Papa(h) Ayah
Mama(h) Ibu
Tuako/Koko Kakak laki-laki
Tuaci/Cici Kakak perempuan
Titi/Siaoti/Dede Adik laki-laki
Meme/Siaome/Dede Adik perempuan

Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Nama_Tionghoa

Thursday, December 22, 2011

"Tang Ce" Awal Rangkaian Sembayang Sincia

 Hari Raya Tang Ce (Tung Ce) adalah salah satu hari raya yg kerap dilaksanakan setiap tahun pd tgl 22 Desember. Namun bila pd tahun dimana ada tgl 29 dalam bulan Pebruari (Tahun Kabisat) atau juga biasa nya ada Lun (bulan lebih / bulan tamhah pd thn yang bersangkutan, jadi dlm se tahun ada 13 bulan, maka Hari Raya Tang Ce dirayakan pd tgl 21 Desember. Demikian pula Ceng Beng / Cing Ming yg biasa nya dirayakan pd tgl 5 April maka menjadi tgl 4 April ketika ada tgl 29 dlm bln Pebruari (Tahun Kabisat).

Secara harafiah Tang Ce / Tung Ce berarti Musim Dingin Tiba karena saat itu merupakan puncak musim dingin.

Pada 22 Desember letak matahari tepat di atas garis balik 23,5 derajat lintang selatan.
Pada hari itu belahan bumi utara akan mengalami siang hari yang paling pendek & malam hari paling panjang.
Pada daerah utara yang memiliki iklim sub tropis & dingin mulai lah mengalami musim dingin.

Perayaan Tang Ce ditandai dng persembahyangan yg disertai dng persembahan Onde/Ronde (berkuah manis pedat jahe, supaya menghangatkan tubuh).

Hidangan Onde tersebut awal nya hanya ada 2 warna yaitu Merah dan Putih.
Merah melambangkan Im = Ibu/Mamah/Negatif/Malam dll dan Putih melambangkan Yang = Ayah/Papah/Positif/Siang.
Im dan Yang merupakan simbol dari harmonisasi alam semesta. Di area hitam ada titik putih dan sebalik nya di area putih ada titik hitam.
Segala sesuatu yang ada di dunia ini adalah tdk sempurna karena nya utk keseimbangan harus saling sinergi dan melengkapi.

Namun saat ini Onde banyak juga dibuat jadi warna hijau, kuning dll sebagai warna tambahan dari beberapa org tertentu yg tdk ada makna nya.

Sembahyang Tang Ce tentu saja hakekat nya adalah kita bersyukur dan sujud kepada Thian atas karunia alam semesta shg kita bisa hidup menikmati berbagai macam karunia yang ada.

Apalagi saat itu juga di Indonesia bertepatan dng hari ibu yg juga jatuh pada tgl 22 Desember. Tentu tanpa ibu kita tidak akan pernah ada.

Bila Tang Ce tiba maka itu juga pertanda bahwa sebentar lagi kita akan merayakan Sin Cia yang notabene adalah terjadi pd saat musim semi tiba.
Saat Sin Cia maka ber ganti tahun, tahun ber tambah maka itu berarti usia kita juga bertambah. Perhitungan tahun Sin Cia tersebut dihitung sejak kelahiran Nabi Khong Hu Cu / Kong Zi (lahir pd Pe Gwe Ji Cit thn 551 SM), jadi pd thn 2012 nanti adalah Sin Cia yang ke 2563.

Karena nya di tandai dng makan Hidangan Onde tersebut se jumlah usia / umur kita pd tahun depan itu.
Apakah wajib makan onde se jumlah usia???
Tidak wajib, tapi kalo sanggup ya silahkan habiskan...dan mau tambah lagi, kalo memang ada juga ok ok aza..
Itu kan hanya pertanda saja...kasihan kan kalo Oco/Amah/Popoh, Akong/Kungkung harus makan Onde sejumlah usia 85 butir...apalagi ada sakit diabetes pula....
Jadi jangan bener2 di ikutin makan se jumlah umur...kasihan yg sdh tua.

Esensi nya saja yg di ingat bahwa kalo usia bertambah maka itu arti nya sisa usia kita yg tinggal di dunia ini makin sedikit alias sisa kontrakan nya berkurang dari waktu ke waktu. Jadi ya nyadar lah...
Maka nya ya banyaklah Co Kong Tek / Co Ho Sim / berbuat jasa dan kebajikan.

Tradisi sembahnyang Onde dimulai sejak pada jaman dinasti Zhou.
Saat itu raja memimpin upacara besar untuk memohon kepada Sang Pencipta agar diberi kemakmuran & kesejahteraan.

Rangkaian Sembahyang Sincia itu di antara nya ialah sdh dimulai saat Tang Ce ini, lalu Sembahyang Tepekong Dapur (Cao Kun Kong) Naik pd Cap Ji Gwe Ji Si.
Trus Sembahyang Sincia itu sendiri (Cia Gwe Ce It).
Lalu Cia Gwe Ce Si yaitu Sembahyang Tepekong Dapur (Cao Kun Kong) Turun.
Lalu Cia Gwe Ce Kaw yaitu Sembahyang Thian (Keng Tikong).
Terakhir Cap Go Meh (Cia Gwe Cap Go) , saat bulan purnama yg pertama kali dalam tahun yang baru.
Sumber : Catatan. Marga Singgih (http://www.facebook.com/groups/112838604362/permalink/10150548005909363/)

Wednesday, December 21, 2011

Contoh - Contoh Judul Skripsi (SI)

  1. Implementasi Fuzzy GA untuk Mengukur Pengaruh Perlakuan Temperatur terhadap Hasil Kerja & Fisiologi Pekerja
  2. Implementasi Penentuan Biaya Minimum Pengiriman Produksi Berbasis Graph dengan Pendekatan GA
  3. Pemilihan Investasi Mata Uang Asing menggunakan Metode Enumerasi Implisit dalam Ransel Masalah
  4. Sistem Informasi Penjualan dan Persediaan Produksi Sistem Rekomendasi ​​Indeks Client Server Barang: Studi Kasus XXX
  5. Program Bantu Penilaian Prestasi Karyawan dengan Logika Kabur : Studi Kasus
  6. Perancangan Sistem Informasi Rencana Perbaikan Peralatan Non Rutin Berbasis Komputer untuk Unit Jasa Teknik di PT
  7. Sistem Informasi Layanan Konsumen pada Jaringan Lokal Berbasis Web : Studi Kasus di PT. XXX
  8. Sistem Informasi Turbo Motor `Promosi` Sistem Rekomendasi ​​Indeks Web ASP
  9. Sistem Informasi untuk Manajemen Aset Budaya di XXX:
  10. Pengembangan Sistem Informasi Administrasi Jaringan Kabel di PT.
  11. Sistem Informasi Statistik Sekolah sebagai Acuan Mutu Pendidikan di Daerah
  12. Analisa Penerimaan Penerapan Teknik Audit

Thursday, December 15, 2011

Jumlah Domain .Com Kini Mencapai 91 Juta


Pernahkan anda menghitung seberapa banyak situs yang ada di seluruh dunia saat ini? Jika tahu jumlahnya, mungkin anda akan sedikit tercengang. Bayangkan saja, untuk domain .com saja, jumlahnya mencapai 91 juta domain yang terdaftar dan terus bertambah setiap harinya.
Dari data register yang ada, jumlah domain .com dari tahun ke tahun selalu mengalami peningkatan. Namun meskipun menjadi domain yang paling populer, penambahan jumlahnya pada akhir-akhir ini mengalami penurunan.
Penurunan jumlah penambahan tersebut sepertinya sudah diperkirakan oleh banyak pihak. Dengan semakin banyaknya pilihan domain, orang tentunya akan melakukan berbagai pertimbangan untuk menentukan pilihannya.
Meskipun begitu, tetap saja jumlah domain .com masih yang terbanyak. Pada awal tahun 2000, jumlahnya hanya mencapai 21 juta. Namun jumlah tersebut membengkak hingga hampir tiga kali lipatnya pada 2005 yang mencapai 61 juta domain.

Semiotika Dan Fenomena Hiperealitas Nicholas "Gie" Saputra

Budaya-Tionghoa.Net| Juni 2005, kurang lebih 40 tahun sejak jaman So Hok Gie. Kini tokoh fenomenal itu hadir kembali dalam sebuah film berjudul ‘Gie? Bahkan di bulan ini pula sang pemeran utama bersama sutradara melakukan tour ke kampus-kampus dengan disponsori salah satu perusahaan rokok terkemuka di negeri ini. Sejauh pengetahuan saya; sejak momen kebangkitan film Indonesia (yang disebut-sebut ditandai dengan suksesnya film “Ada ada dengan Cinta?; baru kali ini ada film Indonesia bertema pahlawan. Tokoh yang diambilpun cukup radikal; yaitu So Hok Gie; tokoh yang mungkin tak sepopuler pahlawan revolusi, atau pahlawan Kemerdekaan.



Artikel Terkait :
Namun, sejauh cermatan saya, film ‘Gie?yang menceritakan mengenai So Hok Gie itu tak lebih dari ikon budaya kontemporer. Tak beda dengan ‘Ada apa dengan Cinta? ‘Eliana Eliana? ‘Jaelangkung? ‘Bangsal 13?dan sejenisnya. Pihak yang memproduksinya hanya mencari produk atau ikon yang punya positinioning dan diferensiasi berbeda agar lebih mudah memasuki pasar film yang agaknya mulai jenuh dengan tema roman dan horor. Kenapa saya bisa berpandangan begitu? Setidaknya ada beberapa poin yang membuat saya melihat bahwa film ini lebih merupakan budaya kontemporer ketimbang upaya menyampaikan pesan mengenai perjuangan seorang dari seseorang bernama So Hok Gie.

Pertama, saya mencermati pemilihan Nicholas Saputra sebagai So Hok Gie. Saya tak yakin ini kesalahan casting. Tapi kemudian muncul pertanyaan, apa iya sih enggak ada orang yang wajahnya lebih mirip atau mendekati wajah So Hok Gie? Saya melihat ada nilai yang hilang (atau justru dihilangkan?). Nicholas Saputra sama sekali tidak merepresentasikan wajah seorang dari etnis Cina, sangat beda dari wajah asli Gie yang khas etnis Cina. Ini nilai penting yang hilang. Saya pikir, di jaman ini, di mana tertanam kebencian terselubung pada etnis Cina karena pelekatannya pada predikat koruptor, wajah Gie yang Cina setidaknya akan  memberi suatu pandangan lain pada etnis itu, bahwa ada orang dari etnis Cina yang juga mau berjuang untuk bangsa ini. Saya justru melihat bahwa film ‘Gie?ini juga mengandung pengaburan identitas Gie untuk tujuan komersial.

Secara semiotis, ini bisa dijelaskan sebagai bertemunya penanda (signifier) dan petanda (signified). Ferdinand de Saussure menjelaskan bahwa dalam tanda selalu terkandung dua elemen, yatitu penanda dan petanda. konsep tanda sebagai entitas dua sisi (dyad). Sisi pertama disebutnya penanda (signifier), yaitu aspek material dari sebuah tanda. Sisi kedua disebut petanda (signified), yang menjelaskan mengenai konsep mental.[2] Signified berasal dari konsep sedangkan signifier berasal dari gambaran akustik. Pemilihan penanda Nicholas Saputra sebagai So Hok Gie; jelas lebih menjual ketimbang menghadirkan pemeran yang mirip dengan wajah Gie. Bahkan orang seolah sudah diajarkan untk tidak kritis lagi ketika mendengar nama Cina “So Hok Gie?lalu melihat pemilik namanya berwajah seperti Nicholas Saputra.

Poin kedua, Situasi pengaburan identitas Gie ini, diperparah dengan terbitnya ‘Buku harian So Hok Gie?yang cover depannya wajah Nicholas Saputra.  Lama-lama mungkin orang akan melupakan wajah Cina Gie dan lebih mengingat wajah ganteng Nicholas Saputra sebagai wajah Gie. Ini merupakan peralihan suatu petanda (makna) dari penanda (ikon) satu ke penanda (ikon) lain. Menarik, dalam kapitalisme dunia perfileman, bahkan nilai kepahlawananpun sudah menjadi banal dan kehilangan esensi pentingnya.

Fenomema ini sama saja dengan ikon Lara Croft yang diidentikkan dengan Angelina Jolie, sehingga kemudian orang lebih mengenali Lara sebagai Jolie dan Jolie sebagai Lara. Dalam dunia Pop Culture ini wajar, imaji memang perlu agar suatu produk dapat eksis; hanya sayang, kenapa justru tokoh sejarah yang semestinya bernilai yang dijadikan sebatas komoditas. Lebih parah lagi ketika muncul protes mengenai penempatan wajah Nicholas pada cover, Lantas Riri Reza beralasan bahwa karakter Gie memang lebih suka di belakang. Ya, karakter ‘Gie?(yang Cina itu) memang selalu di belakang. Terlepas dari dia memang suka di belakang atau tidak, tokoh sepertinya memang selalu [berusaha] ditempatkan di belakang oleh kekuasaan. Simbolisasi ini berulang secara jelas pada fenomena cover itu. Dalam konteks kapitalisme, wajah Nicholas memang lebih menjual ketimbang wajah Gie, apalagi jika dikaitkan dengan promo filmnya.

Poin ketiga, tour ke kampus-kampus itu. Sepanjang pengetahuan saya (semoga saya salah, setidaknya data itu yang saya lihat di Surabaya), selain pemeran dan produsernya, tak menyertakan tokoh yang signifikan dengan kiprah So Hok Gie di masanya. Lalu, mereka mengadakan diskusi dengan mahasiswa. Diskusi yang seolah dikemas dalam wacana So Hok Gie. Padahal bisa jadi mereka yang datang lebih mengagumi penampilan menarik Nicholas Saputra ketimbang kiprah tokoh bernama So Hok Gie.

Ini adalah nilai-nilai kepahlawanan yang dikemas dalam fetishisme. Sebuah relasi metaforis yang memutuskan komoditi dari asalnya. Orang (mungkin kebanyakan perempuan yang terpesona oleh Nicholas) mengagumi Gie hanya sebatas pada sosok menarik Nicholas dan terputus dari kiprah Gie. Ini adalah suatu fenomena terperangkapnya konsumen dalam kode-kode objek yang dikodifikasi secara sistematis melalui sistem kapitalisme. Ini adalah hal wajar dalam kapitalisme karena struktur tanda adalah jantung dari komoditi yang akan menentukan eksisnya komoditi di arena pasar. Tokoh ‘Gie?yang ada dalam film ini, memiliki apa yang dijelaskan oleh Pierre Bourdieu sebagai modal simbolik untuk eksis di ‘arena bertarungnya?yaitu kancah industri film. Modal simbolik itu terletak pada Nicholas Saputra.



Refleksi

Fenomena Nicholas ‘Gie?Saputra ini adalah fenomena hiperealitas, di mana penanda satu membawa pada penanda lain. So Hok Gie berubah menjadi komoditas ketika dia dilekatkan pada Nicholas Saputra. Bahkan petanda yang merujuk pada makna herois pun ikut melekat pada Nicholas Saputra. Pada akhirnya, orang mungkin lebih mengingat wajah Nicholas Saputra sebagai sosok yang lekat dengan heroisme Gie. Saya pikir ini sangat masuk akal karena dalam peran sebagai Rangga, sosok anak muda SMA yang radikal; Nicholas juga tampak memerankan dengan baik, sehingga sosok ini juga menjadi salah satu idealisasi dalam budaya kontemporer. Dalam analisis saya, ketika memilih orang untuk memerankan So Hok Gie, sutradara mempertimbangkan citra radikal yang telah terbangun pada diri Nicholas melalui sosok Rangga; yang lantas justru mengorbankan salah satu nilai esensial dari seorang So Hok Gie.

Saya tak mengatakan bahwa film ini sepenuhnya tak berguna. Ada banyak sisi positif lain, selain memajukan perfileman Indonesia, film ini juga meramaikan kembali bioskop dengan film-film negeri sendiri (apalagi ditunjang dengan sejumlah gimmick pemasaran), juga setidaknya menyampaikan sekelumit kisah seorang tokoh bernama So Hok Gie. Setidaknya tokoh fenomenal itu tak lantas terlupakan. Namun, tetap saja ada yang mengganjal di hati. Saya jadi berpikir, kalau memang Gie punya wajah seperti Nicholas, mungkin dia tak akan jadi aktivis. Aku pikir wajahnya cukup ganteng untuk bersaing dengan bintang film di jaman itu, seperti Sophan Sophiaan, Robby Sugara, Roy Marten, Rano Karno atau bintang film pria Indonesia di era 1960-1970-an. Dia juga pasti akan kesulitan menjalankan pidato-pidato perjuangannya karena akan banyak perempuan yang histeris dan berusaha meminta tandatangannya.

Ada cermatan lain?




[1] Peneliti; Institut Ilmu Sosial Alternatif (IISA)-Surabaya
[2] Paul Cobley dan Litza Jansz; (2002); Mengenal Semiotika ?For Beginners; saduran Ciptadi Sukono; Bandung : Mizan; hal. 10-11
Budaya-Tionghoa.Net | Mailing-List Budaya Tionghoa 14404

Keong Sawah di Piring Kaleng...



KOMPAS.com – Inilah rumah makan Sunda yang benar-benar memberikan pengalaman berbeda. Bagaimana tidak, saat baru masuk saja, pengunjung harus menghadapi antrean panjang. Konon, antrean panjang ini tak kenal waktu. Entah itu di jam makan siang maupun di luar jam makan siang. Jangan tanya kondisinya saat akhir pekan. Penuh oleh masyarakat setempat maupun wisatawan.
Nama rumah makan tersebut adalah Nasi Bancakan, terletak di Jl. Trunojoyo No. 62, Bandung. Letaknya yang strategis juga keunikan konsep rumah makan ini, membuat tempat ini laris manis. Saat Kompas.com mampir, antrean mengular dari ujung terdalam sampai ke pintu.
Apa uniknya? Saat masuk, pengunjung tak perlu membuka buku menu maupun tak akan ada pelayan yang menghampiri Anda untuk menerima pesan Anda. Ya, Anda harus mengantre menuju meja panjang prasmanan. Di meja panjang itu, aneka lauk pauk tampak menggoda di mata.
Layaknya di sebuah kantin, ambilah piring sendiri. Kemudian seorang ibu akan menyediakan nasi yang Anda inginkan. Entah itu nasi liwet atau nasi timbel. Piring itu pun unik karena menggunakan piring kaleng yang biasa dipakai di zaman dahulu. Saat ini, piring kaleng semacam ini sudah jarang ditemukan.
Anda pun dapat memilih lauk yang Anda suka. Mulai dari babat, paru, dan sate telur puyuh. Lalu ayam, gepuk, cumi, gurame, pindang tongkol, peda, ikan mas, dan gabus.
Untuk sayuran, bisa mencoba aneka tumisan seperti tumis iwung, tumis genjer, dan tumis waluh. Ada pula teri kacang, buntik, dan ceos kacang. Masakan Sunda tentu belum lengkap dengan lalapan. Nah di sini pun tersedia aneka sayuran segar untuk lalapan yang bisa Anda ambil sendiri.
Aneka gorengan seperti tahu, tempe, sampai perkedel jagung jangan terlupakan. Lalu ada pula aneka pepes, lotek, serta beragam sambal. Anda bisa pilih sambal golodog, sambal oncom, dan sambal ceurik.
Beberapa lauk ini hanya sebagian dari yang ada di daftar menu. Total ada lebih dari 60 aneka lauk pauk yang ada di Nasi Bancakan. Makin unik, karena aneka jajanan manis yang cocok untuk hidangan penutup bisa Anda beli di sini. Ada lapak es goyang sampai harum manis. Masing-masing pedagang layaknya berjualan di pinggir jalan, hadir dengan gerobaknya sendiri-sendiri.
Selain piring dari kaleng, gelasnya pun dari kaleng. Teko-teko berisi teh tawar panas tersedia bagi para pengunjung. Pengunjung dapat mengmbilnya sendiri secara gratis. Salah satu yang perlu Anda coba adalah tutut atau keong sawah yang ditumis dengan bumbu kuning.
Menu pindang lauk sawah juga perlu Anda cicipi, menu ini termasuk menu favorit di Nasi Bancakan. Lalu untuk hidangan manis sebagai penutup, nikmati es goyang yang manis dengan balutan coklat cair.
Saat membayar, bersiaplah terkejut. Harganya sangat murah dan per porsi sebenarnya termasuk banyak. Seperti satu porsi tutut bisa dinikmati hingga 4 orang dan harganya hanya Rp 5.000. Sebagian besar harganya tak lebih mahal dari Rp 9.000 per menu per porsi.

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More