free counters

Jumat, 08 April 2011

Cina Benteng Tionghoa “Item” di Tangerang


Makalah Seminar "Cina Benteng Sejarah dan Budayanya"

"Festival Budaya Etnis Tionghoa di Prov. Banten"
Pemuda Tridharma Indonesia
湯儒孝 Suma Mihardja
Gedung Pertemuan Hengky, Pangkalan Tangerang
19 Februari 2011


Sosiologis Kini

Kulitnya item, matanya besar, rambutnya ikal. Tampangnya agak sangar, seperti preman, diperkuat dengan gayanya yang terkesan angkuh dan suka berkelahi.
 Orang itu bicara keras, dengan logat melayu yang kental dan berkesan sok tahu. Ketika dibantah pendapatnya dan diberitahukan kekeliruannya, dia malah melotot dan balik menghardik, “Eh, elu tuh yaaa. Engkong gua udah lama ngasih tau ini ke guaa. Cekcek gua aja terus pake enggak ada masalah. Elu bilang si slompret itu yang ngaku-ngaku? Gede jasaaa.”
Kemudian dia berpaling ke seorang lainnya yang berperwakan mirip seperti dia namun terlihat lebih tua, lalu berkata “Owe mah udah bilangin ama cekcek, jangan didengerin omongannya si buaya ketimpring kayak dia.”

Nama Tangerang

Summa Oriental 1513-1515 (Tomé Pires 1468-1539)
por moeda meuda caixas Da China sam como ç eitijs furados pollo mey ….Ho quarto porto he o de tamgara he porto como hos sobreditos tem boa pouoacam E trato tem capitam he lugar de trato como cada huũ dos sobreditos tem as cousas que os out°s tem

Decada IV [1560?] (J. Barros ?-1570)
Esta Ilha de Sunda he terra mais montuosa por dentro a Jaü a, tem seis portos de mar notaveis, Chiamo que o estremo da Ilha, Xacatara por outro nome Caravam, Tangaram, Cheguide, Pondang, e Bintam, que sã o de grande trafego, por razã o do commercio que se aqui vem fazer, assi da Jaü a, como de Malaca e Ç amatra.

Decada IV [Diogo do Couto)
Os portos principae do Reyno da Sunda, saõ Banat, Achè, Xacatara, por outro nome Caravaõ, aos quaes vaõ todos os annos muy perto de vinte somas, que saõ embarcaç oens do Chincheo, huma das provincias maritimas da China, a carregar de pimenta, porque dà este Reyno todos os annos oyto mil bares della, que saõ trinta mil quintaes.
 
Mendahului Benteng

·         Berbagai catatan Tiongkok dari abad ke-4 hingga ke-16 pada umumnya konsisten menyebutkan daerah Jawa bagian Barat adalah Sunda (atau kerajaan Sunda), dengan hanya perubahan minor.
·         Peta politik pada dasarnya berubah semenjak invasi Kerajaan Cirebon-Demak melintasi Cimanuk untuk mengislamkan Sunda.
·         Sunda Kalapa dan Banten ditundukkan pada tahun 1526-27, menyebabkan lokalisme darat antar sejumlah kesultanan kecil.
·         Ancaman serangan Mataram Hindu di awal abad ke-17 ke daerah “Jakarta” menimbulkan kembali aliansi dan perseteruan negara.
·         Aliansi Inggris dan Sunda Kalapa Januari 1619 berhasil mengusir Belanda, namun bokongan Banten terhadap Sunda Kalapa memungkinkan Belanda kembali dari Banda dan menyapu habis Sunda Kalapa pada pertengahan bulan Mei 1619.
·         Tahun 1636 Belanda memblokade Makassar dan berdamai 1637
·         Perseteruan terbuka antara Bone dan Bugis Makassar terkait aneksasi wilayah. Belanda memanfaatkan aliansi dengan Aru Palakka dan memanfaatkan tentara Bone yang kuat.
Nama Benteng

·         Aru Palakka diungsikan di Jawa, kemungkinan besar di benteng Cisadane untuk menjauhkan dari Hassanuddin sekaligus menjaga pertahanan dari serangan Banten, sekitar tahun 1655-1660.
·         Belanda menduduki benteng Panakkukang tahun 1660 namun kehilangan Formosa akibat Zheng Chenggong tahun 1662, dan mempertahankan Makassar tahun 1667 diikuti perjanjian Bungaya. Makassar efektif dikuasai. Pada tahun bersamaan, Pakuan Pajajaran dikuasai oleh Banten-Cirebon.
·         Armada Aru Palakka tetap digunakan Belanda sebagai kompensasi dikembalikannya Bone ke tangan Palakka 1667.
·         Di akhir abad ke-17, terdapat dua kubu benteng di “Tangerang”, yaitu benteng Belanda di Timur dan Banten di Barat sungai. Kemungkinan besar nama Benteng Makassar akibat penempatan orang Bone di sana. Tahun 1682 Sultan Haji melawan Sultan Ageng Tirtayasa dan meminta bantuan Belanda. Kemenangan Belanda berujung perjanjian 1684.
·         Daerah Timur Cisadane ditempatkan menjadi regentschap  di bawah Batavia dengan pimpinan kalangan Banten semenjak 1682.
·         Tahun 1860, tangerang menjadi Afdeling tersendiri dan memiliki 3 distrik. Jumlah orang Tionghoa sudah besar sehingga memiliki Letnan tersendiri. Tahun 1877 pejabat Tionghoa dinaikkan menjadi Kapitein.
·         Tahun 1882 didirikan Kota Tangerang dengan batas Utara adalah kampung Benteng Makassar

Cina Benteng

·         Nama Benteng diperkirakan diambil karena adanya lokasi perbentengan besar di daerah Benteng Makassar (sekarang) sepanjang abad ke-17-18.
·         Sepanjang abad ke-17, situasi Tangerang menurun drastis akibat pertempuran sporadis antara Belanda dan Banten.
·         Kebijakan pembukaan tanah partikelir pada awal abad ke-18 memungkinkan sejumlah pekebun Tionghoa untuk menetap dalam kisaran yang cukup luas sepanjang Cisadane.
·         Pada masa itu, kalangan Tionghoa terdekat dengan Tangerang adalah daerah Banten, Pontang, Cikande(?), Kalapa dan Karawang(?). Ada sejumlah klaim mengenai temuan artefak Tionghoa di Tanjung Kait, Tanjung Pasir hingga ke Dadap dan Muara Angke.
·         Istilah Cina Benteng diperkirakan baru muncul pada awal abad ke-19 seiring dengan meluasnya pemakaian bahasa Melayu pasar dan pertambahan populasi Tionghoa di Tangerang. Nama pondok dan kebon seringkali diidentikkan dengan lokasi pemukiman kalangan Tionghoa.

  Penamaan Cina Benteng
·         Pertambahan penduduk terjadi setelah pertengahan abad ke-18, diperkirakan karena tiga faktor: telah stabilnya keamanan di daerah pendudukan Belanda setelah mengalahkan Banten, eksodus Tionghoa dari Batavia setelah Moord 1740, makin banyaknya pelarian dari Tiongkok menghindari kekuasaan Manchu yang mencari daerah menetap baru yang potensial di Lamyang.
·         Politik wijkenstelsel dan passenstelsel yang diterapkan Belanda pada abad ke-19 hingga awal abad ke-20 mengukuhkan identitas “Benteng” 文登 dan lebih khusus lagi “Cina di Benteng”.
·         Secara umum, penduduk Cina Benteng pada masa wijkenstelsel menempati populasi sekitar 10% dari total penduduk kabupaten, namun di wilayah kota menempati sampai 30% populasi.
·         Kalangan Tionghoa di Tangerang terbagi ke dalam kelas-kelas sosial dan mengisi posisi-posisi dari hartawan dan pejabat hingga tukang becak dan pembantu.
·         Selain membawa nama “bersama”, ada klasifikasi berdasarkan wilayah tinggal mereka di kota dan “pinggiran” dan menyebabkan stratifikasi sosial yang baru pula. 

 Pembedaan Pada Cinben
·         Kalangan tuan tanah pada umumnya tinggal di kota dan memiliki tanah luas serta jabatan tituler. Banyak yang memiliki “gundik” yang diberi rumah di pinggiran (Sewan, Karawaci), sehingga lama-kelamaan menciptakan kelas tersendiri.
·         Kalangan aristokrat cenderung berpendidikan Barat dan bahkan gelijkstelling, sementara kalangan bawah cenderung tradisionalis dan hanya mengandalkan pendidikan non-formal dari kerabat.
·         Daerah hunian asal adalah dari pesisir Utara hingga ke daerah Karawaci sekarang. Ke Selatan pada saat itu adalah daerah yang terbilang sepi dan tidak aman. Ke Barat hanya sampai mendekati Cimone, ke Timur hingga mendekati Poris sekarang.
·         Pada umumnya hingga jaman Jepang, semua warga saling mengenal dan berkerabat, bahkan beberapa di antaranya memiliki sistem pengelolaan marga tersendiri.
·         Kebanyakan warga pesisir hidup dari pertanian dan perikanan, sementara yang di udik hidup dari perkelontongan dan kegiatan perburuhan perkebunan. 

Titik Petanda Sejarah

·         Tangaram awal diperkirakan lebih mendekati pantai, di mana pedagang Tionghoa sudah bermukim dalam jumlah kecil sekali semenjak abad ke-6.
·         Sunda yang relatif stabil terganggu dengan ekspansi Cirebon di abad ke-16, menyebabkan kalangan Tionghoa lebih banyak berada di kota pelabuhan besar yang relatif aman.
·         Chineese Moord 1740 di Batavia mendorong eksodus ke Barat dan Timur (termasuk perang Sunan Kuning). Kalangan Tionghoa sudah masuk hingga pedalaman dan menjadi pedagang perantara.
·         Perkelahian akibat pembagian hasil pengusahaan lahan antara penduduk Tegalkunir dan Kebonwaru tahun 1913 mendorong permusuhan dengan kalangan petani.
·         Pemberontakan petani di bawah pimpinan Dalang Kain terjadi tahun 1924 dan menimbulkan kerusuhan rasial di Kampung melayu, Teluk Naga hingga Tanah Tinggi.
·         Jaman gedoran 1942 diprovokasi oleh Jepang yang hendak membalas dendam atas dukungan solidaritas kalangan Tionghoa terhadap perang Tiongkok-Jepang semenjak 1937.
·         Keberadaan laskar liar mendorong antipati rasial dan berujung pembantaian 1946-1947. Ada simpang siur proses awal kejadian. Kalangan Tionghoa mengantisipasi dengan membentuk Pao An Tui yang justru menajamkan tudingan terjadinya kolaborasi dengan NICA . Presiden Soekarno setelah didesak kemudian menunjuk Oey Kim Sen, Go King Liong dkk sebagai komite penyelamat, termasuk menjadikan Sin Ming Hui Batavia sebagai lokasi penyelamatan.
·         Setelah tahun 1946,  terjadi eksodus masuk Tangerang, dan sebagian ke daerah lain.
·         Setelah tahun 1960 terdapat sejumlah besar Tionghoa EPO dan stateless (100 ribu?) akibat politik Juanda, khususnya dari daerah Barat pulau Jawa yang tertahan di Priuk dan kemudian bermigrasi dan menetap di Tangerang bagian Utara yang relatif lebih menerima mereka.

Siapa yang Benteng?

·         Pemukim awal abad ke-17 di seputaran Cisadane Utara
·         Eksodus Batavia 1740 yang ke Tangerang Kota
·         Mereka yang berada dalam wijk yang ditentukan Belanda di seputaran Pasar Lama pada akhir abad ke-19
·         Yang menjadi Benteng:
·         Thenglang Pesisir yang masuk dan menetap di wilayah Benteng dalam rentang waktu 1913-1924
·         Thenglang Udik yang masuk dan menetap di wilayah Benteng dalam rentang waktu 1946-1949
·         Yang Benteng Nanggung:
·         Thenglang yang EPO tahun 1960 dan menetap di wilayah Benteng dalam rentang waktu 1960-1962
·         Thenglang Pesisir yang terkena proyek Bandara Soekarno-Hatta tahun 1980-an.
Yang Kurang Benteng:
·         Migran dari berbagai wilayah Indonesia dalam rentang 1970-1980-an namun menyerap budaya Benteng
Kircinben
Yang Bukan Benteng:
·         Migran dari berbagai wilayah semenjak 1990-an dan tidak menyerap budaya Benteng

Siapakah Ciben?

·         Ciri budaya: Hakka dominan di Pasar Lama (Tegal Pasir), Hokkian dominan di wilayah pesisir dan udik, namun praktis sudah lebur, dengan Hokkian sebagai ciri dominan, khususnya dalam nama.
·         Pasar Lama memiliki Bun Tek Bio 文德廟yang diperkirakan berdiri 1775 dan memiliki inskripsi tertua dari tahun 1805. Kelenteng bermodel terbuka, dengan tuan rumah Kuan Im. Banyak donasi diketahui berasal dari kalangan Hakka (Zhenping-Jiaying dan Pinghe-Zhangzhou), meskipun lafal yang dipakai adalah Hokkian Ciang Ciu.
·         Kebanyakan makam tua tuan tanah di luar pasar lama memiliki inskripsi yang menunjukkan kampung asal di Hokkian.
·         Tanjung Kait memiliki Cheng Sui Couw Su Bio 清水祖師廟 yang diperkirakan berdiri 1770 dan memiliki inskripsi tertua dari tahun 1832. Kelenteng bermodel tertutup, dengan tuan rumah Couw Su Kong. Banyak donasi diketahui berasal dari kalangan Hokkian (An Kwee-Choan Ciu). Lebakwangi Sewan memiliki Tjong Tek Bio 宗德廟 yang diklaim berdiri 1830 dan dipindahkan 1950. Pasar Baru memiliki Bun San Bio 文山廟 yang didirikan sekitar tahun 1820. Ciri dasar komunitas Tionghoa umumnya terlihat dalam pengadaan pusat pertemuan masyarakatnya. Belakangan terjadi pergeseran akibat Orde Baru dengan berdirinya sejumlah vihara dan cetiya yang memasukkan unsur hinayana mendampingi kimsin.
·         Dalam rumah kebanyakan, masih didapati altar leluhur sebagai ciri utama Tionghoa, penghormatan leleuhur. Bahasa dan tradisi kebanyakan adalah campuran melayu Hokkian (bahasa dan budaya Cina Benteng).

 Dilema Kultural

  Ciben adalah penjaga tradisi Tionghoa, namun perlahan tapi pasti digerus oleh nasranisasi Barat dan budhisasi India semenjak khususnya masa Orde Baru.
  Politik SBKRI dan KTP yang dipadu doktrin asimilasi membuat kegamangan, bahkan pun setelah dihapuskan pada tahun 2000-an.
  Hilangnya sistem pendidikan Tionghoa dan modernisasi ala Barat menggiring mereka semakin kehilangan pilar ketionghoaan (nama, marga,  hubungan kekeluargaan, ritual, bahasa, seni dan sistem pengetahuan). Kekerabatan semakin rusak ketika terjadi pembukan pabrik Istem di tahun 1990-an yang menyerap pendatang.
  Yang bertahan kebanyakan generasi tua dan yang baru akan tumbuh generasi sangat muda. Ada peralihan antara dialek daerah ke bahasa mandarin, antara budaya lokal dan budaya global. Ada lompatan generasi dan budaya.
  Masih tersisanya politik diskriminasi dan depolitisasi yang menimbulkan trauma dan rasa serba takut, khususnya akibat perulangan kekerasan kepada mereka.
Masalah Belakangan
  Penggunaan istilah Cinben dan sejenisnya di dalam kazanah Indonesia yang plural dalam kerangka Bhinneka Tunggal Ika
  Individualisme, kapitalisme zoon economicon, dan klaim organisasi “Tionghoa” mengenai masalah terkait Tionghoa
  Kekhasan Cinben sebagaimana halnya kekhasan lokalitas, kesukuan dan kebudayaan lainnya.
  Rencana penggusuran yang tidak mempertimbangkan banyak aspek, khususnya perlindungan terhadap kalangan marginal
  Rendahnya perhatian atas tradisi kultural yang lebih luas yang sebenarnya menjadi ciri Cinben akibat kebimbangan di tengah perubahan jaman yang semakin menggilas.
  Politisasi dari berbagai masalah menyangkut identitas budaya.
  Kalau anda tidak senang dirampok, ketika terjadi perampokan akankah anda meminta ganti rugi? Kalau anda menegaskan bahwa kalau anda dirampok anda akan meminta ganti rugi, apakah artinya anda bersedia dirampok?

Apa yang Bisa Dipertahankan???

  Tata kota yang mempertahankan identitas budaya.
  Cagar budaya di wilayah khusus, mencegah ekonomisasi tanpa memperhatikan arsitektur dan tata wilayah.
  Penghentian agamaisasi dan politisasi agama ketika menghadapi perbedaan.
  Penanganan kasus kemiskinan dan menggalakkan pemberdayaan ekonomi, budaya dan hukum.
  Pelaksanaan kegiatan budaya massal yang melibatkan komponen kolektif dengan cara menghidupkan kembali kebanggaan atas identitas kota tanpa melupakan semangat kesatuan Indonesia tentunya.
  Koordinasi untuk menjaga warisan budaya dan memberikan ruang pemanfaatan demi kelestariannya.

CINBEN ADALAH KOMUNITAS WARISAN KULTURAL
SAMA HALNYA SEPERTI DI LASEM, SINGKAWANG, MAKASSAR, BAGAN SIAPI-API ATAUPUN BANGKA
KEHIDUPAN CINBEN PUN MELEKAT PADA TANAH
SAMA SEPERTI KOMUNITAS KULTURAL LAINNYA
PERJALANAN SEJARAH MEREKA YANG PANJANG
DARI BANTEN, SELAPAJANG, ANGKE DAN BATAVIA, TERMASUK LEGOK, MAUK DAN TANJUNG PASIR
ADALAH PERJALANAN PANJANG SEJARAH BANGSA
ADALAH PERJALANAN BUDAYA SEBUAH NEGARA JUGA
ADALAH PERJALANAN PERJUANGAN KITA SEMUA


KAMSIA
SEMOGA BHINNEKA TUNGGAL IKA TETAP TERJAGA DI BUMI INDONESIA


0 komentar:

Poskan Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More